Sedikit serius,
Zka agak ngerasa berada diposisi dilema setuju - tidak setuju ketika ngeliat perkembangan demo-demo belakangan ini, baik yang terjadi di Jakarta ataupun yang di Timika mengenai eksistensi PT. Freeport Indonesia (PT. FI).
Diantara demo-demo tersebut, bisa ditarik benang merah aspirasinya, yaitu "Freeport Bermasalah". Meskipun senyatanya, diantara para demonstran timbul beberapa faksi-faksi, antaralain: ada yang menuntut PT. FI bener-bener hengkang dari Papua, ada yang hanya menuntut perbaikan perekonomian dengan cara me-revisi Kontrak Karya RI - PT. FI, terus ada juga kelompok yang hampir sama dengan penuntut revisi KK ini, adalah kelompok yang minta dinaikkan nilai kontribusi PT. FI yang selama ini sebesar 1% menjadi 10% (tidak dijelaskan berapa nilai nominalnya).
Pendapat yang berkembang di jajaran elite pun terbagi dua, antara lain pendapat Wapres Jusuf Kalla yang bilang PT. FI itu proyek strategis (mesti zka terus bertanya-tanya, strategis bagi Rakyat Indonesia, khususnya rakyat papua atau strategis bagi dia dan pemerintahan belaka?) sementara menurut Amien Rais "Tutup PT. Freeport" (pendapat ini agak ekstrim yach, agak terkesan terburu-buru, tapi salut untuk amien rais, beliau konsisten menyuarakan hal ini, tidak seperti Mantan Presiden RI yang ketika masalah ini berkobar, beliau langsung koar-koar tutup FI. Kemana ajah loe pas jadi presiden?)
Zka bertanya pada diri zka sendiri, dan ternyata jawaban zaka terbagi dua, pertama, zaka sebagai salah seorang yang lahir dan besarnya di "idupin" freeport. Kedua, zaka sebagai Rakyat Indonesia yang memiliki intelektual.
Ngga bisa di pungkirin, begitu besar kontribusi freeport bagi zaka pribadi. Zaka bisa mengenyam pendidikan yang baik, mengenyam keberagaman suku, etnis, agama di sana (Tembagapura). Begitu banyak kenangan indah yang zka dapet selama disana. Zaka juga melihat bagaimana Freeport membangun Tembagapura menjadi kota yang moderen! bahkan mungkin paling moderen di Indonesia saat itu, maka ngga salah juga ada yang bilang Tembagapura itu Negara di dalam Negara.
Disinilah permasalahan timbul, ternyata Tembagapura menjadi kota "eksklusif" dan rasis! ini terbukti dari adanya pemagaran lingkungan sekitar tembagapura, sehingga warga asli papua tidak bisa masuk ke dalam Tembagapura kecuali ada event-event tertentu seperti 17 Agustusan atau kalau mereka lagi "ngamuk" seperti saat ini.
Sebagai rakyat Indonesia (yang biasa-biasa saja), Zka ngerasa kok ada ketidak adilan disana, FI mengeruk hasil bumi Indonesia sebesar-besarnya dan memberikan kontribusi sekecil-kecilnya. Ini gampang terlihat dari rendahnya angka pertumbuhan ekonomi wilayah sekitar Tembagapura khususnya dan wilayah papua lain umumnya. Seharusnya setelah sekian lama FI beroperasi di Papua, ada wujud nyata pembagunan yang terlihat, Papua jadi metropolitan kek, Papua jadi Kota besar kek, atau yang paling sederhana, rakyat Papua ngga ada yang kelaparan lagi (lihat kasus Yahukimo).
Belum lagi kerusakan lingkungan yang disebabkan ekploitasi emas dan tembaga secara gila-gilaan, gunung-gunung yang indah kini telah hancur, sungai-sungai yang jernih kini tercemar limbah sisa "tailing" (baca: pencemaran atas tiga sungai besar di Timika.)
Kalau harus dipaksa menjawab, apakah zka setuju FI ditutup atau tidak, akan zka jawab "Tidak Setuju" dengan catatan: "tidak untuk saat ini". Alasanya, kalau FI ditutup secara spontan saat ini, mau dikemanakan ribuan karyawan yang ada disana? mau diapakan ratus ribuan bangunan disana? Apakah pemerintah sanggup memelihara perumahan dan fasilitas pertambangan "super moderen" untuk ukuran Indonesia di sana?
Sebaiknya dipikirkan mekanisme pembagian hasil yang lebih jelas, terus dilakukan juga evaluasi AMDAL secara menyeluruh dan independen. Jangan lupakan juga aspek masyarakat adat yang ada disana, mereka itu "pemilik" sesungguhnya dari ratusan ton emas dan tembaga yang tiap detiknya di kirim FI ke Amerika jadi mereka harus di turut sertakan dalam pembangunan dan pengembangan. Ya! nilai yang seharusnya benar-benar di fikirkan oleh freeport adalah nilai sosial budaya!
Kita juga jangan lupa dech, kontribusi besaf FI di Tembagapura. Mereka setidak-tidaknya bisa membangun kota yang modern dan lengkap di ujung timur Indonesia, sementara pemerintahan RI belum mampu. FI juga sudah berkontribusi memberikan pendidikan yang baik bagi banyak warga disana. Hal ini jangan kita lupakan.
Kesimpulannya, agak terburu-buru kita menuntut FI di tutup, kita juga terburu-buru memandang banyak aspek buruk dari freeport tanpa klarifikasi lebih lanjut. Sebagai, seorang anak yang lahir di Tanah Papua…zka tau banyak tentang "kondisi lapangan" yang sesungguhnya, FI ngga parah-parah banget kok
Maaf yach tulisan ini ngga memberi solusi lebih baik, zka hanya ingin mengungkap perasaan anak papua yang besar oleh freeport dan melihat ketidak adilanyang terjadi….hehe